.quickedit{ display:none; }

Makalah Seni dan Kebudayaan Papua Barat



MAKALAH SENI DAN KEBUDAYAAN
PROVINSI PAPUA BARAT


DISUSUN OLEH:
Nama Kelompok               : Agi Febrian Trihadijaya
Kelas                                  : XI PSIA 1


PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU UTARA
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SMA NEGERI 1 ARGAMAKMUR
2012


 ______________________________________________________________________
BAB I
KEBUDAYAAN

1.        Benda Khas
Perempuan senang sekali memakai tas. Termasuk mungkin ibu dan saudari perempuanmu. Tapi tahukah kamu kalau tas juga bisa menjadi simbol kehidupan yang baik, perdamaian, dan kesuburan? Perempuan Papua, khususnya Papua Barat memiliki tas tradisional bernama Noken yang merupakan perlambangan dari hal-hal di atas tadi.
Noken adalah kantong atau tas yang dijalin dari kulit kayu. Biasanya tas ini digantung di kepala atau leher perempuan Papua untuk membawa hasil bumi, anak babi, bahkan menggendong bayi. Selain banyaknya bawaan yang bisa dikalungkan, beberapa perempuan bahkan menggantungkan lebih dari satu noken di lehernya. Biasanya noken ini disusun bertingkat di atas punggung supaya tidak saling tumpuk dan berat.
Hal lain yang menarik dari tas tradisional ini adalah bahwa hanya perempuan Papua yang boleh membuat noken.


Perempuan Papua yang belum bisa menjalin noken bahkan sering dianggap belum dewasa dan belum layak menikah. Kenapa laki-laki tidak boleh membuat noken? Karena seperti yang sudah dikatakan di awal, noken adalah simbol sumber kesuburan kandungan seorang perempuan.
Berbagai suku di Papua dan Papua Barat menyebut noken dengan berbagai nama. Kayu yang digunakan sebagai bahan baku juga berbeda-beda. Ada kulit kayu pohon Manduam, pohon Nawa bahkan anggrek hutan. Noken dari bahan anggrek ini terkenal di Paniai dan nilainya sangat tinggi. Harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
Di kampung wisata Sauwadarek, Papua Barat, kamu bisa menjumpai beberapa perempuan setempat yang membuat noken. Harga noken di Sauwadarek relatif murah antara Rp.25.000-Rp.50.000 per buah tergantung jenis dan ukurannya. Jadi kalau kamu berkunjung ke Papua Barat, noken akan menjadi oleh-oleh yang paling pas untuk ibu dan saudarimu.

2.       Kebudayaan Suku Arfak
Indonesia memang negeri yang beraneka ragam. Selaras dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, masyarakat Indonesia memang penuh kebhinekaan dan keanekaragaman. Beragam suku dengan kebudayaan dan tradisinya masing-masing menghiasi bumi pertiwi ini. salah satunya adalah suku Arfak.
Suku Arfak adalah komunitas asli terbesar di kabupaten Manokwari, Papua Barat. Suku Arfak sendiri terdiri dari beberapa sub suku yakni suku Hatam, Moilei, Meihag, Sohug. Masing-masing sub suku tersebut memiliki kepala suku dan bahasa daerah yang berbeda. Kebhinekaan jelas tercermin dari suku Arfak ini.

Perkampungan suku Arfak terletak di sekitar Kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak. Luasnya mencapai 68.325 Ha. Kawasan perkampungan ini juga dihuni 333 jenis burung yang 4 diantaranya adalah endemik Pegunungan Arfak. Selain itu 110 jenis mamalia dan beraneka ragam Kupu-Kupu sayap burung tinggal dikawasan ini.
Selain keragaman bahasa, suku Arfak juga memiliki kebudayaan menarik yakni Mod Aki Aksa atau Rumah Kaki Seribu tempat tinggal suku Arfak. Suku Arfak secara tradisional tinggal di rumah tertutup yang hanya memiliki dua pintu yakni di depan dan di belakang. Uniknya, rumah ini dibuat tanpa jendela seperti rumah pada umumnya.
Selain itu, bentuknya pun unik karena dibangun dengan konstruksi rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu dan rumput ilalang sebagai atapnya. Banyak orang yang menyebut rumah tradisional yang memiliki nama asli Mod Aki Aksa / Igkojei ini sebagai Rumah Kaki Seribu. Hal tersebut dikarenakan banyaknya tiang penyangga pada rumah ini sehingga diumpamakan sebagai kaki seribu.
Suku Arfak juga terkenal dengan Tari Magasa yang dikenal oleh orang awam sebagai Tari Ular. Disebut sebagai Tari Ular karena formasi taruan yang menyerupai liukan ular yang mengikuti irama lagu yang dinyanyikan. Tarian ini biasanya digelar pada acara ulang tahun, perkawinan, panen raya, penyambutan tamu dan acara penting lainnya.
Tarian ini biasanya dilakukan secara berkelompok oleh semua lapisan masyarakat baik tua maupun muda. Namun idealnya tarian ini dilakukan berpasangan antara pria dan wanita, bergandengan tangan, saling himpit, melompat dan menghentakan kaki ke tanah. Biasanya tarian ini menceritakan tentang romantisme, kepahlawanan hingga keindahan alam.
Seakan dianugrahi oleh Sang Pencipta, Suku Arfak juga dikelilingi panorama alam yang indah dan mempesona. Tak heran Suku Arfak memang seakan diberkahi oleh Sang Maha Kuasa. Dimana didalamnya bersemayam keanekaragaman dan kerukunan yang bersatu dalam harmoni di bumi Indonesia.



BAB II
PARIWISATA

1.        Wisata Bawah Air: Wabbegong


Salah satu hewan yang terkenal menghuni kepulauan Raja Ampat di Papua Barat adalah Tasseled Wobbegong . Di balik namanya yang unik itu, wobbegong sebetulnya adalah nama yang diberikan untuk sejenis hiu yaitu hiu karpet atau carpet shark.


Kenapa wobbegong disebut hiu karpet? Nama itu diberikan karena motif kulit wobbegong yang serupa tapi tak sama


dengan karpet sehingga mudah berkamuflase di dasar samudera yang berpasir. Kamuflase wobbegong semakin meyakinkan dengan sesuatu yang serupa rumbai-rumbai di bagian mulut yang berguna untuk menangkap ikan.



Panjang wobbegong antara 65 cm hingga satu meter, relatif tidak agresif, dan biasa diam di bawah karang atau goa-goa di dasar samudera. Mereka biasa ditemukan di perairan tropis

dengan temperatur rendah seperti Samudera Pasifik dan Samudera Hindia bagian timur.

Ingat, wobbegong adalah sejenis hiu. Itu artinya mereka memiliki gigi yang meskipun kecil tapi amat tajam. Meski wobbegong terkenal tidak berbahaya tapi kita tetap harus berhati-hati tidak mengganggunya. Ikan ini menggigit manusia yang menginjaknya, penyelam yang menyentuh atau menusuknya, atau siapa saja yang berusaha menghalangi jalan mereka.

2.       Taman Wisata Suwandarek
Masih ingat tentang tas tradisional Papua Barat bernama noken ? Nah, salah satu lokasi yang memperlihatkan bagaimana noken dibuat adalah di Kampung Wisata Sauwandarek. Kampung wisata ini terletak di Distrik Meos Mansar, Raja Ampat, Papua Barat dan menawarkan berbagai hal menarik untuk dijelajahi.  Raja Ampat terkenal dengan keindahan bawah lautnya, pantai Sauwandarek khususnya kawasan Selat Dampier juga tidak

ketinggalan. Ada beberapa lokasi untuk snorkeling dan menyelam (dive site ). Penyelam bisa bertatap muka dengan kuda laut mini (pigmy seahorse ), udang mantis, blue ring octopus, ikan mandarin, kakap (schooling snapper ), gerombolan ikan tuna, dan barakuda. Kita bahkan bisa menyaksikan atraksi memberi makan ikan di pantai.
Selain wisata air, kita bisa menikmati keindahan darat dengan treking ke Telaga Yenauwyau. Keunikan telaga ini adalah airnya yang asin. Rupanya dahulu di telaga ini ada sebuah goa yang menghubungkan telaga dengan laut. Itu sebabnya air Telaga Yenauwyau asin.
Menurut cerita setempat, telaga ini dihuni oleh seekor penyu putih. Tidak banyak orang yanb bisa melihat wujud penyu tersebut. Itu sebabnya siapa yang kebetulan melihat penyu di telaga keramat ini dipercaya akan mendapatkan keberuntungan. Kalau belum beruntung melihat penyu putih tidak perlu berkecil hati. Kita masih bisa melihat burung Maleo Waigeo (Spilocuscus papuensis), burung endemik di wilayah Sauwandarek.
Kalau kamu tertarik berkunjung ke kampung wisata Sauwandarek, kamu bisa berangkat dari kota Sorong ke Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat, Waisai. Dari Waisai kamu bisa menggunakan perahu ke Sauwandarek. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 7-8 jam. Oleh karena itu kalau mau berkunjung ke Sauwandarek, jangan lupa siapkan bekal yang cukup untuk perjalanan.

3.       Teluk Triton


Teluk Triton memiliki keindahan bawah laut yang luar biasa. Kekayaan ikan dan terumbu karangnya beraneka ragam. Di kawasan ini terdapat 937 spesies ikan juga 492 jenis karang. Lumba-lumba dan paus yang ramai bermain di sela pulau-pulau Teluk Triton menambah daya tarik tempat ini.

Di wilayah Mai-Mai, pengunjung dapat melihat adanya lukisan di tebing kapur setinggi puluhan meter. Garis-garis merah tergurat di dinding membentuk figur manusia, tanaman, reptil, ikan dll. Diduga lukisan tersebut berasal dari zaman mesolitikum.

 _________________________________________________________________________
BAB III
KULINER

1.        CapCay Khas Papua Barat


CAP cay adalah tumisan asal China. Ia terdiri dari beragam varian sayuran yang diramu sedemikian rupa. Namun ia tak hanya dikenal di China, tetapi juga dikenal sebagai panganan khas Papua Barat.

Tidak seperti cap cay kebanyakan, cap cay dari daerah Manokawari, Papua Barat, ini sedikit berbeda. Bahan utamanya bukanlah wortel, buncis, sawi, irisan daging ayam, bakso, jamur, atau udang dan cumi, melainkan kombinasi dari bunga papaya, sayur pakir atau sayur paku, serta daun melinjo, yang dalam bahasa Papua Barat disebut dengan daun gemeno.
Bahan-bahan untuk membuat cap cay ini mudah diperoleh. Hanya dibutuhkan tiga suing bawang merah, dua suing bawang putih, dua buah cabai merah besar, lima buah cabai rawit (atau sesuai selera jika ingin pedas), satu tangkai serai, terasi, garam, dan minyak goring secukupnya.
Untuk membuatnya juga tidak begitu sulit. Cuci terlebih dahulu semua sayuran dan bumbu. Kemudian siapkan lima cangkir air untuk merebus bunga papaya hingga layu. Selanjutnya, tuang air rebusan papaya tadi dan cuci bunga papaya dengan air biasa untuk kemudian direbus kembali.
Untuk menghilangkan rasa pahit pada bunga papaya, ulangi proses merebus dan mencuci bunga papaya ini sampai tiga kali.
Sementara itu, siangilah sayur pakis atau paku dan daun gemeno atau melinjo. Setelah cabai merah besar dipotong serong dan semua bumbu diulek halus, siapkan wajan dan minyak secukupnya. Tumislah bumbu hingga kecokelatan dan harum.
Campurkan semua bahan. Ketika semuanya telah layu, cap cay Papua pun siap dihidangkan. Jika diinginkan, cap cay Papua juga dapat dikombinasikan dengan perasan kelapa sehingga kuahnya dapat dibuat bersantan.
Berbeda dengan rumah-rumah makan khas lain di Indonesia, cap cay ini tidak mudah diperoleh. Ia tak dapat dijumpai di tempat-tempat makan di penjuru Manokwari. Untuk menikmati kelezatan cap cay khas ini, masyarakat harus melakukan pemesanan secara khusus di rumah Ibu Ina, (40). Posisinya terletak di Jalan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Atas, Manokawari.
Ketiadaan rumah makan khas Papua Barat sebetulnya menjadi keprihatinan dari pengusaha catering yang cukup terkenal di Kota Buah ini. Padahal, jika rumah makan khas tersebut ada, eksistensi makanan khas Papua Barat tentu akan mudah diingat orang. Tidak saja cap cay papua barat, tetapi juga keladi baker atau papeda.
“Rumah makan yang biasanya menyediakan masakan khusus Papua, biasanya mudah diingat orang. Apalagi saat ini banyak turis mancanegara mendatangi Kota Manokwari. Siapa tau masakan saya juga akan menjadi buah bibir para turis itu, jika sampai di negaranya,” ujarnya berkelakar.
Namun, untuk mewujudkan rumah makan tersebut, ia mengalami keterbatasan modal. Alhasil, mimpinya  belum dapat terwujud. Yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah melayani pemesanan saja.
“Perlahan tapi pasti,” imbuh Ina.
Sebagai orang yang menyediakan makanan khas, rumah Ina kerap disambangi oleh banyak masyarakat Papua Barat. Sebagaimana penjualan makanan khas, pola periklanannya dilakukan dari mulut ke mulut.
“Dulunya hanya teman-teman dekat saja yang memesan makanan, tapi ya berkat teman-teman itu, sekarang usaha catering ini jadi berkembang,” kata Ina ketika ditemui di rumahnya. 
“Usaha ini juga untuk menambah uang sekolah anak dan makan sehari-hari,” tambah wanita yang juga menjadi satu-satunya pemasok sayuran tauge di Pasar Tradisional Sanggeng, Kota Manokwari.
Harga yang dipatok Ina untuk satu porsi cap cay relatif murah, yakni Rp15 ribu. Tak heran rumahnya sering dipadati oleh para pemesan. Perharinya, jumlah pesanan bisa mencapai tiga puluh porsi.
“Kami selalu kebanjiran order setiap hari kerja, Senin sampai Jumat. Kebanyakan mereka yang memesan makanan ini adalah mereka yang bekerja di kantoran. Biasanya untuk pelengkap makan siang mereka. Sementara, jika hari weekend tiba, cap cay Papua juga tetap menjadi primadona pelengkap makan siang ataupun makan malam,” ungkap Ina.
Untuk memenuhi pesanan cap cay papua, Ina masih melakukan seluruh proses memasak seorang diri.
“Masakan cap cay papua memang yang paling terkenal untuk jenis masakan yang saya masak. Jadi untuk saat ini, belum membutuhkan bantuan orang lain,” ujarnya.
Memang ada beberapa jenis masakan lagi yang biasa dipesan masyarakat Kota Manokwari, seperti papeda atau ikan kuah kuning. Untuk jenis masakan ini, jika sedang kebanjiran order, Ina tak segan melibatkan ketiga anaknya yang masih bersekolah.
Menurut Ina, masakan cap cay papua barat telah menjadi makanan andalan yang sangat digemari masyarakat di Manokwari, baik itu warga asli Papua Barat maupun warga pendatang.
Kuliner ini telah digemari masyarakat sejak 1900-an hingga saat ini. Bahkan, katanya, untuk acara-acara keluarga, seperti pernikahan. Ia sendiri merupakan generasi keempat yang turut melestarikan masakan khas ini.

2.       Sagu
Sagu atau Sago (Metroxylon spp) adalah sejenis tumbuhan dari keluarga palmae yang tersebar di Papua Barat terutama daerah Wasior, Windesi, dan Salawati. Habitat tumbuhan sagu berupa payau atau rawa serta daerah pinggir sungai dengan kadar garam rendah. Tumbuhan sagu dewasa biasanya memiliki 18 pucuk daun dengan panjang 5-7 meter.
Sagu menjadi potensi daerah di Papua Barat karena selain tepungnya bisa digunakan sebagai bahan makanan pokok juga sebagai bahan pembuat lem plywood . Tapi bukan hanya tepung sagu saja yang bisa digunakan. Daun sagu digunakan sebagai bahan atap rumah dan kerajinan tangan. Batangnya digunakan sebagai dinding dan lantai rumah.
Tepung sagu diperoleh dari teras batang pohon sagu.Ciri fisik tepung sagu mirip dengan tepung tapioka. Coba kamu intip lemari dapur ibu dan rasakan perbedaan tepung tapioka dan tepung biasa. Lebih kesat. Seperti itulah tepung sagu. It sebabnya dalam resep masakan, tepung sagu yang relatif sulit didapat sering diganti dengan tepung tapioka.
Masyarakat Maluku dan Papua mengkonsumsi sagu dalam bentuk papeda, semacam bubur. Sagu sendiri dijual dalam bentuk tepung atau yang sudah dipadatkan dan dikemas dengan daun pisang.

No comments

Post a Comment

Powered by Blogger.