// No block text, no copy and paste text

Follow Me!

Friday, January 25, 2013

Laporan Praktikum Difusi, Osmosis, dan Tumbuhan Monokotil, Dikotil


DIFUSI, OSMOSIS, DAN
TUMBUHAN MONOKOTIL DAN DIKOTIL



DISUSUN OLEH:
Nama Kelompok               : Agi Febrian Trihadijaya
Dian Puspita Sari
Yessica Viania Variska
Kelas                                  : XI PSIA 1
Tanggal Praktikum            : 14 September 2012
Guru Mata Pelajaran        : Dewi Artati, M.Pd Si


PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU UTARA
DINAS PENDIDIKAN NASIONAL
SMA NEGERI 1 ARGAMAKMUR
2012

________________________________________________

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Difusi terjadi atas respon terhadap perbedaan konsentrasi. Konsentrasi adalah sejumlah zat atau partikel per unit volum. Suatu perbedaan terjadi, apabila terjadi perubahan konsentrasi dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Selain perbedaan konsentrasi, perbedaan dalam sifat dapat juga menyebabkan difusi.
Angkutan dalam sel tergantung pada permeabilitas selektif dari dari membran. Permeabilitas selektif ini mengendalikan pergerakan senyawa terlarut (larutan) dalam sel dan cairan ekstra seluler. Cairan cenderung berdifusi dan ketika melewati membran terjadi angkutan pasif. Difusi cairan inilah yang disebut osmosis. Osmosis sangat ditentukan oleh potensial kimia air atau potensial air, yang menggambarkan kemampuan molekul air untuk dapat melakukan difusi. Sejumlah besar volum air akan memiliki kelebihan energi bebas dari volum yang sedikit, di bawah kndisi yang sama. Energi bebas suatu zat per unit jumlah, terutama per berat gram molekul (energi bebas mol-1) disebut potensial kimia. Potensial kimia zat terlarut kurang lebih sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya. Zat terlarut yang berdifusi cenderung untuk bergerak dari daerah yang berpotensi kimia lebih tinggi menuju daerah yang potensial kimianya lebih kecil.
Percobaan kali ini dilakukan dengan latar belakang adanya berbagai perstiwa yang berkenaan dengan difusi dan osmosis dalam tubuh makhluk hidup. Melalui kegiatan ini, kita dapat lebih memahami bagaimana mekanisme perpindahan zat yang terjadi antar sel di dalam makhluk hidup itu sendiri.
Pada Tumbuhan tingkat tinggi dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu tumbuh-tumbuhan monokotil (berbiji keping satu) dan tumbuh – tumbuhan dikotil (berbiji keping dua). Oleh dibaginya tumbuhan dalam dua jenis ini, maka pada kedua tumbuhan ini antara tumbuhan monokotil dan tumbuhan dikotil akan memiliki perbedaan ciri-ciri baik dalam bentuk morfologi dan dalam bentuk fisiologi. Hal ini yang menyebabkan diadakannya praktikum guna memastikan perbedaan ciri-ciri secara morfologi maupun secara fisiologi agar lebih jelas.

1.1.            Tujuan:
§  Tujuan dari praktikum ini ialah mengamati perubahan yang terjadi pada proses Difusi dan Osmosisyang akan diuji.
§  Selain itu, tujuan yang lain ialah guna mengetahui ciri-ciri secara morfologi maupun fisiologi dari pembedaan tumbuhan monokotil dan dikotil.

 _______________________________________________________________________________
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.  Landasan Teori:
v  Buku panduan belajar dan mengajar (Biologi SMA Kelas XI, Arif Priyadi; Yudhistira)
v  Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari konsentrasi tinggi (hipotonis) ke konsentrasi rendah (isotonis) hingga mencapai keseimbangan konsentrasi yang sama (isotonis). Difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),difusi melalui saluran yang terbentuk oleh protein trans membran (simple difusion by chanel formed), dan difusi terfasilitasi (fasiliated difusion). Difusi melalui membran berlangsung karena molekul-molekul yang berpindah atau bergerak melalui membran bersifat larut dalam lemak (lipid) sehingga dapat menembus lipid bilayer pada membran secara langsung. Membran sel permeabel terhadap molekul larut lemak seperti hormon steroid, vitamin A, D, E, dan K serta bahan-bahan organik yang larut dalam lemak, Selain itu, membran sel juga sangat permeabel terhadap molekul anorganik seperti O,CO2, HO, dan H2O. Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut dalam serta ion-ion tertentu, dapat menembus membran melalui saluran atau chanel. Saluran ini terbentuk dari protein transmembran, semacam pori dengan diameter tertentu yang memungkinkan molekul dengan diameter lebih kecil dari diameter pori tersebut dapat melaluinya. Sementara itu, molekul – molekul berukuran besar seperti asam amino, glukosa, dan beberapa garam – garam mineral, tidak dapat menembus membrane secara langsung, tetapi memerlukan protein pembawa atau transporter untuk dapat menembus membran. Proses masuknya molekul besar yang melibatkan transporter dinamakan difusi difasilitasi, yaitu pelaluan zat melalui rnembran plasma yang melibatkan protein pembawa atau protein transporter. Protein transporter tergolong protein transmembran yang memiliki tempat perlekatan terhadap ion atau molekul yang akan ditransfer ke dalam sel. Setiap molekul atau ion memiliki protein transporter yang khusus, misalnya untuk pelaluan suatu molekul glukosa diperlukan protein transporter yang khusus untuk mentransfer glukosa ke dalam sel. Protein transporter untuk glukosa banyak ditemukan pada sel-sel rangka, otot jantung, sel-sel lemak dan sel-sel hati, karena sel – sel tersebut selalu membutuhkan glukosa untuk diubah menjadi energi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi, yaitu:
§  Ukuran partikel, semakin kecil ukuran partikel maka semakin cepat partikel itu akan bergerak, sehingga kecepatan difusi semakin tinggi,
§  Ketebalan membrane, semakin tebal membrane maka semakin lambat kecepatan difusi,
§  Luas suatu area, semakin besar luas area maka semakin cepat kecepatan difusinya,
§  Jarak, semakin besar jarak antara dua konsentrasi maka semakin lambat kecepatan difusinya,
§  Suhu, semakin tinggi suhu maka partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih cepat.(Wikipedia)
v  Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari larutan yang konsentrasi zat pelarutnya tinggi (hipertonis) menuju larutan yang konsentrasi zat pelarutya rendah (hipotonis) hingga mencapai keseimbangan konsentrasi yang sama (isotonis) melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semi permeabel. Jika di dalam suatu bejana yang dipisahkan oleh selaput semi permeabel, ditempatkan dua larutan glukosa yang terdiri atas air sebagai pelarut dan glukosa sebagai zat terlarut dengan konsentrasi yang berbeda dan dipisahkan oleh selaput selektif permeabel, maka air dari larutan yang berkonsentrasi rendah akan bergerak atau berpindah menuju larutan glukosa yang konsentrainya tinggi melalui selaput permeabel. Jadi, pergerakan air berlangsung dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi menuju kelarutan yang konsentrasi airnya rendah melalui selaput selektif permiabel. Larutan yang konsentrasi zat terlarutnya lebih tinggi dibandingkan dengan larutan di dalam sel dikatakan sebagai larutan hipertonis. Sedangkan larutan yang konsentrasinya sama dengan larutan di dalam sel disebut larutan isotonis. Jika larutan yang terdapat di luar sel, konsentrasi zat terlarutnya lebih rendah daripada di dalam sel dikatakan sebagai larutan hipotonis. Apakah yang terjadi jika sel tumbuhan atau hewan, misalnya sel darah merah ditempatkan dalam suatu tabung yang berisi larutan dengan sifat larutan yang berbeda-beda. Pada larutan isotonis, sel tumbuhan dan sel darah merah akan tetap normal bentuknya. Pada larutan hipotonis, sel tumbuhan akan mengembang dari ukuran normalnya dan mengalami peningkatan tekanan turgor sehingga sel menjadi keras. Berbeda dengan sel tumbuhan, jika sel hewan/sel darah merah dimasukkan dalam larutan hipotonis, sel darah merah akan mengembang dan kemudian pecah /lisis, hal ini karena sel hewan tidak memiliki dinding sel. Pada larutan hipertonis, sel tumbuhan akan kehilangan tekanan turgor dan mengalami plasmolisis (lepasnya membran sel dari dinding sel), sedangkan sel hewan/sel darah merah dalam larutan hipertonis menyebabkan sel hewan/sel darah merah mengalami krenasi sehingga sel menjadi keriput karena kehilangan air. Dalam tubuh organisme multiseluler, air bergerak dari satu sel ke sel lainnya dengan leluasa. Selain air, molekul-molekul yang berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel. Molekul-molekul tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses osmosis akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua sisi membran tersebut telah mencapai keseimbangan. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri. Dua faktor penting yang mempengaruhi osmosis adalah:
§  Kadar air dan materi terlarut yang ada di dalam sel
§  Kadar air dan materi terlarut yang ada di luar sel.(http://nurmaatus.blogdetik.com/category/biologi/)
v  Tumbuhan berkeping biji tunggal (atau monokotil) adalah salah satu dari dua kelompok besar tumbuhan berbunga yang bijinya tidak membelah karena hanya memiliki satu daun lembaga. Kelompok ini diakui sebagai takson dalam berbagai sistem klasifikasi tumbuhan dan mendapat berbagai nama, seperti Monocotyledoneae, Liliopsida, dan Liliidae. Kelompok tumbuhan ini mencakup berbagai tumbuhan paling berguna dalam kehidupan manusia. Sebagai sumber pangan, sumber energi nabati, sumber bahan baku industri, perumahan, dekorasi, pakaian, media penulisan, zat pewarna, dan sebagainya. Contoh tumbuhan monokotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki adalah :
§  Bentuk akar, memiliki sistem akar serabut
§  Bentuk sumsum atau pola tulang daun, melengkung atau sejajar
§  Kaliptrogen / tudung akar, ada tudung akar / kaliptra
§  Jumlah keping biji atau  kotiledon, satu buah keping biji saja
§  Kandungan akar dan batang, tidak terdapat cambium
§  Jumlah kelopak bunga, umumnya adalah kelipatan tiga
§  Pertumbuhan akar dan batang, tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar.(Wikipedia)
v  Tumbuhan berbiji belah atau tumbuhan berkeping biji dua (dikotil) adalah segolongan tumbuhan berbunga yang memiliki ciri khas yang sama dengan memiliki sepasang daun lembaga (kotiledon:daun yang terbentuk pada embrio) berbentuk sejak dalam tahap biji sehingga biji sebagian besar anggotanya bersifat mudah terbelah dua dan sistem Crouquist mengakui kelompok ini sebagai takson dan menamakan nya kelas Magnoliopsida. Nama ini dibentuk dengan menggantikan akhiran -aceae dalam nama Magnoliopsida dengan akhiran - opsida . Kelas Magnoliopsida dipakai sebagai nama takson bagi semua tumbuhan berbunga bukan monokotil. Magnoliopsida adalah nama yang dipakai untuk menggantikan nama yang dipakai sistem klasifikasi yang lebih lama, kelas Dicotyledoneae (kelas “tumbuhan berdaun lembaga dua” atau “tumbuhan dikotil”). Ciri pada tumbuhan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki adalah :
§  Bentuk akar, memiliki sistem akar tunggang
§  Bentuk sumsum atau pola tulang daun, menyirip atau menjari
§  Kaliptrogen / tudung akar, tidak terdapat ada tudung akar
§  Jumlah keping biji atau kotiledon, ada dua buah keping biji
§  Kandungan akar dan batang, ada cambium
§  Jumlah kelopak bunga, biasanya kelipatan empat atau lima
§  Pertumbuhan akar dan batang, bisa tumbuh berkembang menjadi membesar.(Wikipedia)

______________________________________________
BAB III
PELAKSANAAN DAN PERCOBAAN

3.1.  Alat dan Bahan:
1.       Alat:
-       Gelas beaker 100 ml; 2 buah
-       Pisau/cutter
-       Tangkai pengaduk
-       Stopwatch
-       Balance Digital (Timbangan Digital)
-       Tissue

2.      Bahan:
-       Aquades
-       Garam
-       Gula
-       Apel
-       Kentang
-       Tinta pena cair
-       Variable control: air biasa (sebagai pembersih gelas breaker, dll)
-       Jagung beserta akar, batang, daun, dll
-       Kacang tanah beserta akar, batang, daun, dll

3.2.  Prosedur Kerja:
1. Difusi:
Pada pengujian difusi, akan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
A.      Untuk gelas pertama (Larutan Garam)
§  Pertama cuci Gelas beaker 100 ml dengan air
§  Isilah air ke dalam gelas beaker 100 ml dengan air 60 ml
§  Timbang garam dengan menggunakan Balance Digital (Timbangan Digital ) sebanyak 1 gram
§  Masukkan garam yang telah di timbang ke dalam air yang telah di sediakan sebelumnya
§  Aduk garam bersamaan dengan menghitung waktu larutnya dengan menggunakan stopwatch
§  Setelah garam larut, catat lamanya waktu garam larut di dalam air
B.      Untuk gelas kedua (Larutan gula):
§  Pertama cuci Gelas beaker 100 ml dengan air
§  Isilah air ke dalam gelas beaker 100 ml dengan air 60 ml
§  Timbang gula dengan menggunakan Balance Digital (Timbangan Digital ) sebanyak 1 gram
§  Masukkan gula yang telah di timbang ke dalam air yang telah di sediakan sebelumnya
§  Aduk gula bersamaan dengan menghitung waktu larutnya dengan menggunakan stopwatch
§  Setelah gula larut, catat lamanya waktu garam larut di dalam air
C.      Untuk gelas ketiga (Tinta pena):
§  Pertama cuci Gelas beaker 100 ml dengan air
§  Isilah air ke dalam gelas beaker 100 ml dengan air 60 ml
§  Teteskan tinta pena bersamaan dengan menghitung waktu bercampurnya tinta pena dengan air dengan menggunakan stopwatch
§  Setelah tinta pena tercampur, catat lamanya waktu tinta pena tercampur di dalam air.

2. Osmosis
A.    Untuk gelas pertama (Larutan Garam 10%):
§  Iris apel menjadi 2 bentuk yang beragam dan juga iris kentang dengan 2 bentuk yang beragam, agar mudah membedakan pada saat pencatatan dan pengamatan
§  Siapkan larutan seperti pengujian larutan garam, namun dengan konsentrasi yang berbeda. Yaitu dengan jumlah air 80 ml dan kadar gula 10 gram
§  Masukkan ke 4 irisan yang telah disiapkan sebelumnya ke dalam gelas yang berisi larutan garam 10% yang telah disiapkan
§  Diamkan selama semalam
§  Keesokan harinya, ambil lalu amati keempat irisan. Catat perubahan bentuk, warna, ukuran, serta berat.
B.      Untuk gelas kedua (Aquades):
§  Iris apel menjadi 2 bentuk yang beragam dan juga iris kentang dengan 2 bentuk yang beragam, agar mudah membedakan pada saat pencatatan dan pengamatan
§  Siapkan air aquades
§  Masukkan ke 4 irisan yang telah disiapkan sebelumnya ke dalam gelas yang berisi aqudes
§  Diamkan selama semalam
§  Keesokan harinya, ambil lalu amati keempat irisan. Catat perubahan bentuk, warna, ukuran, serta berat.

3. Tumbuhan Monokotil dan Dikotil
§  Potong setiap bagian tumbuhan mulai dari akar, batang, buah, dan daun
§  Amati bentuk akar, batang, buah, dan daun
§  Gambar bentuk akar, batang, buah, dan daun pada kolom pengamatan
§  Beri keterangan apakah tanaman tersebut termasuk golongan tumbuhan monokotil atau tumbuhan dikotil.

 ______________________________________________________________________________
BAB IV
HASIL DAN PENGAMATAN

4.1.  Tabel Hasil Pengamatan Difusi
No.
Bahan
Waktu Isotonis
Keterangan
Jumlah Bahan
Jumlah Air
1
Garam
1 menit, 32, detik, 10
1 gram
60 ml
2
Gula
1 menit, 09 detik, 57
1 gram
60 ml
3
Tinta
58 detik, 03
-
60 ml

4.2.  Tabel Hasil Pengamatan Osmosis


4.3.  Tabel Hasil Pengamatan Tumbuhan Monokotil dan Dikotil

4.4.  Pembahasan
1.       Dari table pengamatan difusi di atas, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
§  Pengujian difusi pada garam memakan waktu sekitar 1 menit 32 detik untuk larut dengan air dan dengan bantuan pengadukan. Dengan jumlah air sebanyak 60 ml dan konsentrasi garam 1 gram.
§  Pengujian difusi pada gula memakan waktu sekitar 1 menit 9 detik untuk larut dengan air dan dengan bantuan pengadukan. Dengan jumlah air yang sama yaitu 60 ml dan konsentrasi gula 1 gram. Pelarutan gula dengan air lebih cepat dibandingkan pelarutan garam dengan air, karena ukuran dari gula tersebut lebih kecil dibandingkan dengan ukuran garam.
§  Pengujian difusi pada tinta pena memakan waktu sekitar 58 detik untuk larut dengan air tanpa bantuan pengadukan. Dengan jumlah air 60 ml dan konsentrasi tinta sebanyak 1 batang tinta pena. Pelarutan tinta pena dengan air lebih cepat dibandingkan pelarutan gula dengan air dan garam dengan air bahkan pelarutan tinta dengan air tidak menggunakan proses pengadukan. Hal ini terjadi karena tinta yang digunakan ialah tinta pena cair atau tinta pena yang tidak mengandung minyak atau bias disebut bahan dasar tinta tersebut ialah air, sehingga lebih mudah larut dan mencapai keseimbangan lebih cepat.

2.      Dari table pengamatan osmosis di atas, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
§  Pada larutan garam 10%, irisan apel mengalami pemasukan air sehingga volume atau berat irisan apel tersebut bertambah. Kemudian pada irisan kentang mengalami plasmolysis atau pengerutan karena kandungan air yang ada di dalam irisan kentang keluar sehingga berat atau volume dari irisan kentang tersebut berkurang.
§  Pada aquades, irisan apel mengalami pemasukan air sehingga volume atau berat irisan apel tersebut bertambah. Kemudian pada irisan kentang mengalami plasmolysis atau pengerutan karena kandungan air yang ada di dalam irisan kentang keluar sehingga berat atau volume dari irisan kentang tersebut berkurang.

3.      Dari table pengamatan tumbuhan monokotil dan dikotil di atas, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
§  Tanaman monokotil merupakan tumbuhan dengan keping biji satu. Ciri-ciri tumbuhan monokotil akar serabut, batang beruas, tulang daun sejajar, buah terbuka, biji berkeping satu. Yang termasuk dalam tumbuhan monokotil yaitu Jagung ( Zea mays L ) yang merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman. Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin. Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapatligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.(http://drs-oeyo.blogspot.com)
§  Tanaman dikotil merupakan tumbuhan dengan dua keping biji. Ciri-ciri tanaman dikotil yaitu akar tunggang, batang berkayu, tulang daun menjari, buah tertutup, biji berkeping dua.  Yang termasuk tumbuhan dikotil yaitu Kacang Tanah (Arachis hypogaea) yang merupakan tanaman polong-polongan atau legum kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan namun saat ini telah menyebar ke seluruh dunia yang beriklim tropis atau subtropis. Sebagai tanaman budidaya, kacang tanah terutama dipanen bijinya kaya protein.(http://drs-oeyo.blogspot.com)

_____________________________________________
BAB V
KESIMPULAN

5.1.  Kesimpulan
Pada  praktikum ini, didapatkan bahwa:
§  Proses difusi pada garam, gula, dan tinta pena memakan waktu kurang lebih 1 menit dengan konsentrasi air 60 ml dan jumlah bahan 1 gram.

§  Proses osmosis yang terjadi pada apel mengalami pemasukan air, baik dalam larutan garam maupun pada aquades. Namu pada kentang mengalami plasmolysis atau pengkerutan dikarenakan kandungan air yang ada di dalam kentang keluar, hal ini terjadi pada larutan garam maupun aquades.
§  Tanaman monokotil memiliki ciri-ciri fisik akar serabut, batang beruas, tulang daun sejajar, buah terbuka, biji berkeping satu.
§  Tanaman dikotil memiliki ciri-ciri fisik akar tunggang, batang berkayu, tulang daun menjari, buah tertutup, biji berkeping dua.

 _____________________________________________________________ 

JAWABAN PERTANYAAN

1.       Irisan apel manakah yang kehilangan air dan irisan apel manakah yang dimasuki air?
Ø  Kedua irisan apel sama-sama dimasuki air baik itu pada larutan garam dan juga aquades

2.      Pada gelas breaker yang berisi aquades, dimanakah konsentrasi air yang lebih tinggi?

Ø  Konsentrasi air tertinggi terdapat pada bahan yang dimasukkan atau irisan apel, karena apel merupakan sel multiseluler.
3.      Pada gelas beaker yang berisi garam, dimanakah konsentrasi air yang lebih tinggi? Di dalam atau diluar irisan apel? Jelaskan pendapatmu?
Ø  Konsentrasi air tertinggi terdapat pada bahan yang dimasukkan atau irisan apel, karena apel merupakan sel multiseluler.
________________________________________________________________________ 
DAFTAR PUSTAKA

Yudhistira, Biologi SMA Kelas XI, Bab 1 & 2
Wikipedia
Google


 ___________________________________________________________________________
LAMPIRAN
Bahan-bahan yang telah disiapkan


Proses penimbangan berat garam dengan Balance Digital


Proses pengadukan garam dengan air hingga garam larut
Proses penghitungan larutnya tinta di dalam air
Proses pengirisan apel dan kentang menjadi beragam bentuk
Proses penimbangan irisan apel/kentang dengan menggunakan balance digital

Proses pengelompokan dalam proses kerja osmosis
Proses penimbangan irisan apel/kentang setelah didiamkan selama semalam

Reaksi:

0 comment:

Post a Comment